Para Jundi Cilik Negeri Sakura
Namanya Ismail, berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Lahir dari pasangan
muslim Afrika dan muslimah Jepang. Jika ditanya tentang cita-cita,
jawabannya akan polos terdengar. "Okikunattara suika ni naritai
(Kalau sudah besar ingin jadi buah semangka)" Jawaban khas anak kecil
yang mungkin akan membuat orang dewasa tersenyum geli. Namun tidak
begitu jika ditanya "Ismail orang mana?" Sosok kecilnya akan tegas
menjawab "Boku wa Isuramu jin da yo (Aku orang Islam). " Sosok
kecil Ismail mungkin belum mengenal nama-nama negara di dunia, yang ia
tahu hanyalah kebangaan menjadi orang Islam – seorang anak muslim yang
lahir di negeri sakura.
Tidak hanya Ibrahim dan Ismail, ada si kecil yang bernama Aisha,
Nurjanah, Sahar, Samar, Hasan, Jibril, Thalhahserta beberapa jundi
cilik lainnya yang tinggal di negeri sakura. Umumnya mereka terlahir
dari pasangan campuran muslim asing dengan muslim Jepang. Tidak seperti
anak-anak muslim di Indonesia, mungkin mereka jarang sekali
mendengarkan adzan di masjid, tidak bisa sering berkumpul dengan sesama
anak muslim lainnya, sulit mendapatkan buku cerita anak tentang Islam
serta kurang memiliki lingkungan kondusif untuk belajar agama.
Dengan kondisi seperti ini, tidak salah jika para orang tua mereka
begitu giat ingin menanamkan jiwa mencintai Allah dan Rasulullah saw
sejak masih dalam buaian. Setiap dua pekan sekali ataupun dalam acara
khusus, saya memiliki kesempatan bertemu dengan para jundi ini di
sebuah masjid di sekitar kawasan Tokyo. Jarak perjalanan yang jauh
sepertinya tidak menjadi halangan. Semata semua dilakukan untuk
menambah ‘charge’ ruhaninya tentang Islam.
Dalam keterbatasan waktu dan ruang, para jundi cilik ini tetap
memiliki semangat. Mengikuti dengan mimik serius setiap mendengarkan
cerita shirah nabawi ataupun sahabat, tertawa-tawa riang ketika
diajarkan huruf hijaiyah dengan permainan kotak dadu, serta kadang
terbata-bata berusaha menghapalkan setiap untaian ayat, surat-surat
ataupun doa-doa pendek yang dilantunkan bersama di antara kelincahannya
sebagai anak-anak. Tak berlebihan rasanya, jika melihat sosok mungilnya
yang ceria dengan semangat menyala, ingatan saya selalu melompat pada
beberapa cerita tentang para pahlawan cilik di masa Rasulullah saw.
Rafi bin Khudaij pemanah cilik ulung yang pernah ikut dalam jihad di
Uhud. Zaid bin Tsabit dalam usianya yang masih belia, diberi kehormatan
membawa bendera pasukan muslim saat perang Tabuk karena memiliki
hapalan Qur`an yang baik. Salamah bin Akwa yang tekenal sebagai pelari
cilik tercepat hingga dapat menahan para perampok unta-unta Rasulullah
saw dengan teknik berlarinya. Aisyah binti As-Shiddiq gadis cilik
cerdas banyak mengetahui tentang Al-Qur`an, hadits, ataupun syair.
Pahlawan cilik yang dalam usia belia, begitu bangga dengan izzah
sebagai muslim. Dengan gagah berani membela Islam. Memerangi kezaliman
dengan kecerdasan dan keahlian, meski terkadang musuh yang dihadang
lebih besar daripada badanya.
Para jundi negeri sakura, mungkin belum tahu tentang cerita
kehebatan para pahlawan cilik di atas. Dan mungkin pula kehebatan para
jundi negeri sakura belum sebanding dengan para pahlawan cilik di zaman
Rasulullah saw. Namun tak berlebihan jika para orang tua termasuk saya,
memiliki harapan yang sama. Bahwa para jundi cilik tersebut suatu saat
akan menjadi pahlawan pembela Islam di negeri sakura. Dalam jiwa
kecilnya, akan tumbuh kebanggaan menjadi seorang muslim. Dapat gagah
berani membela Islam. Memiliki sikap tegas berjuang melawan kezaliman
berupa serangan pemikiran barat. Tidak terimbas oleh lingkungan sekuler
yang siap menghancurkan mutiara imannya.
Perlahan tapi pasti, jundi-jundi cilik di negeri sakura akan tumbuh
menjadi generasi yang berjiwa kuat seperti para pahlawan cilik di zaman
Rasulullah saw. Mereka akan menjadi penegak panji Allah swt. Yang selalu
bangga mengatakan "Saya adalah muslim. " Yang dapat meluaskan syiar
Islam hingga semakin menyebar dan kokoh tegak di bumi sakura. Insya
Allah.
Yakumo -Sepenggal catatan aishliz et FLP Jepang -