Menghadapi Masalah

June 5th, 2008 by dwiajioke

Menghadapi Masalah

Saya tahu bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan menolak
jika dia dilahirkan tanpa masalah dan selalu bahagia tanpa ada sedikit
kesedihan. Tapi apakah itu mungkin ? Bahkan mereka, anda dan saya
bahkan mau membayar berapa dollar pun kalo seandainya ada orang yang
bisa membuat kita lahir di dunia ini dan hidup di dunia ini tanpa ada
masalah dan kesedihan sama sekali. Bahagia selalu bahkan selalu ceria.
Ini saya ada sedikit cerita inspirasi yang saya kutip dari sebuah buku
yang selayaknya pantas untuk saya tuliskan disini. Buku ini judulnya
adalah “Bila anda pikir bisa, Anda pasti bisa melaksanakan dan meraih
apa yang anda inginkan”. Mari kita simak cuplikan cerita dari buku ini
bersama-sama.

“Bung Norman,” kawan saya menyapa. “Tolong bebaskan saya dari
masalah yang menindih hidupku ini, maka saya akan berikan anda seribu
dollar uang kontan atas kebaikan jasa anda itu.”Tentu saja saya
bukanlah seorang yang suka menampik permintaan semacam itu”. Maka saya
pun merenungkan dan mempertimbangkan usul kawan saya itu dan muncul
dengan satu pemecahan masalah yang lumayan juga. Sekurang-kurangnya
cukup realistis sifatnya. Tetapi George nampaknya agak segan rupanya,
sebab ia telah terlanjur menjanjikan 1000 dolar sebagai hadiah.

” Tidak apa george, ” norman berkata. “Saya tetap saja mau bantu
kamu. Oleh sebab itu mari kita pecahkan bersama masalahnya. Kalau tidak
salah anda ingin bebas dari segala masalah anda itu, bukan ? Sampai
habis dan tuntas ?

“Ya Betul,” Jawab George. “Saya ingin lepas dari segala masalah yang
saya hadapi dalam hidup ini. Saya sudah bosan dan kapok dalam
menghadapi cobaan, ujian dan kemelut dalam hidup ini. Saya ingin bebas
untuk selama-lamanya.”

”Baiklah George, saya sudah punya jawabannya”, kata norman. Akan
tetapi saya sangsi apakah kau mau menerima jawaban saya atau tidak.
Dengarkan ! Beberapa waktu lalu saya sedang melakukan tugas
profesionalku, dimana saya harus berhadapan dengan pemimpin kelompok
orang-orang yang yang lebih dari puluhan ribu jumlahnya. Dan tak
seorang pun dari mereka memiliki masalah kehidupan.”

Wajah george langsung cerah, matanya berbinar-binar kegirangan
karena keingin tahuannya.” Nah itulah tempat yang cocok bagi saya.
Antarkanlah saya ke tempat itu teman”. Ujar si george girang.

“Baiklah,” jawab si norman.” Tetapi tempat yang saya maksud adalah perkuburan.”

” Dan memang itulah kenyataannya George. Bahwa di perkuburan itu tak
ada seorang pun yang menghadapi masalah hidup. Bagi orang yang sudah
menjadi penghuni di kuburan tidak akan pernah merasa cemas karena hidup
yang penuh masalah itu telah berlalu bagi mereka. Mereka telah
istirahat dari tugas dan pekerjaannya tiap hari. Mereka tidak peduli
dengan apa yang kita baca dalam koran atau surat kabar atau bahkan apa
yang kita lihat ditelevisi mereka sudah tidak peduli. Mereka tak punya
masalah lagi dengan kehidupan, mereka beralih masalah pada hidup mereka
di alam kubur. Karena memang mereka bukanlah orang hidup dan mereka
adalah orang yang sudah mati.” Tegas Norman kepada George.

Dikutip dari Buku Bila Anda Fikir Bisa Anda Pasti Bisa Melaksanakan dan Anda Pasti Bisa Meraih yang Anda Inginkan

Dari cerita diatas sudah jelas sekali bagaimana bahwa secara logis
bahwa kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh manusia itu adalah alamat
dari kehidupan. Logikanya adalah bagi anda bahwa semakin banyak masalah
yang anda hadapi dalam hidup ini maka semakin luas pulalah peluang anda
untuk hidup yang terbuka bagi anda. Seseorang misalnya menghadapi 10
masalah yang pelik akan nampak lebih hidup dibandingkan dengan seorang
yang bersikap apatis dan hanya memiliki 5 masalah.

Note :

Masalah bukan menjadi alasan kita untuk menghindarinya, namun dengan
masalah kita menjadi lebih dewasa dan lebih terbuka menghadapi hidup
ini.

Para Jundi Cilik Negeri Sakura

September 16th, 2007 by dwiajioke

Namanya Ismail, berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Lahir dari pasangan
muslim Afrika dan muslimah Jepang. Jika ditanya tentang cita-cita,
jawabannya akan polos terdengar. "Okikunattara suika ni naritai
(Kalau sudah besar ingin jadi buah semangka)" Jawaban khas anak kecil
yang mungkin akan membuat orang dewasa tersenyum geli. Namun tidak
begitu jika ditanya "Ismail orang mana?" Sosok kecilnya akan tegas
menjawab "Boku wa Isuramu jin da yo (Aku orang Islam). " Sosok
kecil Ismail mungkin belum mengenal nama-nama negara di dunia, yang ia
tahu hanyalah kebangaan menjadi orang Islam – seorang anak muslim yang
lahir di negeri sakura.

Tidak hanya Ibrahim dan Ismail, ada si kecil yang bernama Aisha,
Nurjanah, Sahar, Samar, Hasan, Jibril, Thalhahserta beberapa jundi
cilik lainnya yang tinggal di negeri sakura. Umumnya mereka terlahir
dari pasangan campuran muslim asing dengan muslim Jepang. Tidak seperti
anak-anak muslim di Indonesia, mungkin mereka jarang sekali
mendengarkan adzan di masjid, tidak bisa sering berkumpul dengan sesama
anak muslim lainnya, sulit mendapatkan buku cerita anak tentang Islam
serta kurang memiliki lingkungan kondusif untuk belajar agama.

Dengan kondisi seperti ini, tidak salah jika para orang tua mereka
begitu giat ingin menanamkan jiwa mencintai Allah dan Rasulullah saw
sejak masih dalam buaian. Setiap dua pekan sekali ataupun dalam acara
khusus, saya memiliki kesempatan bertemu dengan para jundi ini di
sebuah masjid di sekitar kawasan Tokyo. Jarak perjalanan yang jauh
sepertinya tidak menjadi halangan. Semata semua dilakukan untuk
menambah ‘charge’ ruhaninya tentang Islam.

Dalam keterbatasan waktu dan ruang, para jundi cilik ini tetap
memiliki semangat. Mengikuti dengan mimik serius setiap mendengarkan
cerita shirah nabawi ataupun sahabat, tertawa-tawa riang ketika
diajarkan huruf hijaiyah dengan permainan kotak dadu, serta kadang
terbata-bata berusaha menghapalkan setiap untaian ayat, surat-surat
ataupun doa-doa pendek yang dilantunkan bersama di antara kelincahannya
sebagai anak-anak. Tak berlebihan rasanya, jika melihat sosok mungilnya
yang ceria dengan semangat menyala, ingatan saya selalu melompat pada
beberapa cerita tentang para pahlawan cilik di masa Rasulullah saw.

Rafi bin Khudaij pemanah cilik ulung yang pernah ikut dalam jihad di
Uhud. Zaid bin Tsabit dalam usianya yang masih belia, diberi kehormatan
membawa bendera pasukan muslim saat perang Tabuk karena memiliki
hapalan Qur`an yang baik. Salamah bin Akwa yang tekenal sebagai pelari
cilik tercepat hingga dapat menahan para perampok unta-unta Rasulullah
saw dengan teknik berlarinya. Aisyah binti As-Shiddiq gadis cilik
cerdas banyak mengetahui tentang Al-Qur`an, hadits, ataupun syair.
Pahlawan cilik yang dalam usia belia, begitu bangga dengan izzah
sebagai muslim. Dengan gagah berani membela Islam. Memerangi kezaliman
dengan kecerdasan dan keahlian, meski terkadang musuh yang dihadang
lebih besar daripada badanya.

Para jundi negeri sakura, mungkin belum tahu tentang cerita
kehebatan para pahlawan cilik di atas. Dan mungkin pula kehebatan para
jundi negeri sakura belum sebanding dengan para pahlawan cilik di zaman
Rasulullah saw. Namun tak berlebihan jika para orang tua termasuk saya,
memiliki harapan yang sama. Bahwa para jundi cilik tersebut suatu saat
akan menjadi pahlawan pembela Islam di negeri sakura. Dalam jiwa
kecilnya, akan tumbuh kebanggaan menjadi seorang muslim. Dapat gagah
berani membela Islam. Memiliki sikap tegas berjuang melawan kezaliman
berupa serangan pemikiran barat. Tidak terimbas oleh lingkungan sekuler
yang siap menghancurkan mutiara imannya.

Perlahan tapi pasti, jundi-jundi cilik di negeri sakura akan tumbuh
menjadi generasi yang berjiwa kuat seperti para pahlawan cilik di zaman
Rasulullah saw. Mereka akan menjadi penegak panji Allah swt. Yang selalu
bangga mengatakan "Saya adalah muslim. " Yang dapat meluaskan syiar
Islam hingga semakin menyebar dan kokoh tegak di bumi sakura. Insya
Allah.

Yakumo -Sepenggal catatan aishliz et FLP Jepang -

MASIHKAH TERSISA KUBURAN UNTUK PUTRIKU

June 18th, 2007 by dwiajioke

Pagi itu, minggu 5 Juni 2005,
matahari baru saja menebarkan sinarnya. Udara Jakarta yang biasa berselimut
polusi, masih terasa agak segar. Supriono (38 tahun) dan putra sulungnya,
Nurizky Saleh (6 tahun), bergegas mendorong gerobaknya meninggalkan kolong rel
kereta api (KA) Cikini, tempat mereka biasa memejamkan mata setiap malam.

Gerobak itu berjalan perlahan menuju
arah Manggarai. Di dalamnya tergeletak lemah putri kecil Supriono, Nur
Khairunisa (3 tahun), sebuah nama yang indah sekali. Sudah empat hari adik
Nurizky ini berjuang melawan muntaber. Meski begitu, mereka tak surut mendorong
gerobaknya, menyusuri jalan-jalan ibukota, keluar masuk komplek perumahan,
perkampungan, pasar dan tempat-tempat lain. Mereka berharap, masih ada setetes
rezeki dari mengumpulkan kardus bekas, botol plastik dan barang-barang bekas
lainnya.

Selain untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari, Supriono berharap kardus dan barang-barang bekas yang
terkumpul hari ini, bisa ia gunakan untuk membiayai si kecil berobat ke
Puskesmas esok harinya. Nisa memang sudah dibawa ke Puskesmas Setia Budi
Jakarta tiga hari yang lalu. Tapi, ketika obatnya sudah habis, derita Nisa
tidak kunjung berkurang. Biaya berobat yang hanya empat ribu terasa sangat berat
bagi Supriono untuk mencarinya.

Beralaskan karton kotor, berselimut
sarung dekil, tanpa bantal dan guling, tubuh lemah mungil itu
terguncang-guncang ketika gerobaknya melintasi jalan berlubang. Sesekali
kakaknya, Nurizky, mengajaknya bermain. Tapi Nisa tidak menanggapinya.
Paling-paling ia merengek pada kakaknya itu untuk meminta minum, satu-satunya
yang tersisa untuk sarapan.

Tanpa terasa, mereka sudah memasuki
kawasan Manggarai. Jarum jam menunjukkan angka 07.00 WIB. Supriono terkesima
melihat putri kecilnya tiba-tiba terdiam, tak bergerak. Mata mungilnya juga tak
berkedip, desah napasnya berhenti. Supriono segera menghentikan gerobaknya,
diraihnya tubuh mungil itu, dipanggilnya nama putri kesayangannya itu berulang-ulang
kali sambil digoyang-goyangkan tubuhnya. “Inna
lillahi wainna ilaihi raaji’uun”
, dipeluknya erat-erat jasad putri
tercintanya dengan cucuran air mata yang deras mengalir membasahi wajahnya yang
menyiratkan beratnya beban yang dipikul.

Setelah berjuang melawan ganasnya
bakteri penyebab muntaber. Nisa akhirnya menghadap Rabb Yang Maha Kuasa. Tak
ada siapapun di sampingnya, selain ayah dan kakaknya. Ibundanya tidak diketahui
keberadaannya, ia memilih pergi meninggalkan mereka karena tidak sanggup hidup menderita.

Supriono masih memeluk jasad
putrinya. Sementara itu, Nurizky tetap asyik bermain-main. Ia tak mengerti
mengapa ayahnya menangis sambil memeluk adiknya. Uang di dalam saku Supriono
hanya tinggal 6 ribu saja. Jelas sangat tak cukup untuk membeli kain kafan,
apalagi menyewa ambulan dan biaya penguburannya.

Setelah meletakkan mayat purinya di
gerobak, Supriono mengajak Nurizky mendorong gerobaknya menuju stasiun KA
Tebet. Ia berencana menguburkan jasad buah hatinya ini di kampung pemulung,
Kramat Bojong Gede, Bogor. Ia berharap akan memperoleh bantuan rekan-rekannya,
sesama pemulung.

Jarum jam berdetak ke angka 10.00,
matahari mulai terasa menyengat kulit. Sambil mengendong jasad Nisa dan
menyelimutinya dengan sarung kucel dan bau yang selama ini dipakai oleh
putrinya itu, Supriono berdiri di stasiun menunggu KRL jurusan Bogor. Sementara
itu Nurizky, masih saja bermain-main sambil sesekali memegangi tangan adiknya
yang terbujur kaku. Ia masih belum mengerti kalau adiknya telah tiada.

Saat kereta datang, Supriono tidak
diizinkan menaiki kereta karena semua penumpang sudah mengtahui bahwa sesosok
tubuh mungil yang digendongnya itu adalah putrinya yang sudah tidak bernyawa
lagi. Ia pun mengurungkan niatnya naik KRL tersebut dan memilih berjalan kaki
ke Bogor. Tapi, sesampainya di pertigaan jalan Salemba Raya, lama ia berdiri
termangu. Sementara sang mentari semakin menenggelamkan dirinya di ufuk barat.
Ia pun merenung, tak mungkin lagi menguburkan jasad putrinya di Bogor. Kembali tak
tertahan air mata membasahi pipinya. Ditatapnya wajah putrinya itu, batinnya
berbisik “Malang benar nasibmu nak, beristirahatlah engkau dengan tenang,
terbanglah bersama bidadari-bidadari di surga. Maafkanlah bapakmu yang lemah
ini, maafkan bapakmu yang bodoh ini, maafkan bapakmu yang tidak dapat
memberikan engkau kabahagiaan di dunia ini”. Terasa sakit menusuk ke dalam hati
penyesalannya itu. Melihat bapaknya menangis, Nurizky pun ikut menangis dan
memeluk erat bapaknya itu, walaupun ia tidak tahu apa gerangan yang ditangisi
oleh bapaknya itu. Supriono pun membalas pelukan puteranya itu dengan hangat.

Lama Supriono menumpahkan
perasaannya. tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk meminta tolong kepada Ibu
Sri, pemilik rumah petak yang pernah ia tinggali di daerah Manggarai. Lantas ia
menyetop bajaj dan tiba pukul 18.15 di rumah Ibu Sri. Saat Supriono menjelaskan
kedatangan dan maksudnya, Ibu Sri sempat tersentak dan akhirnya meneteskan air
mata. Ia pun berinisiatif membei tahu Ketua RT, Ketua RW dan warga sekitar. Spontan
warga berdatangan dan mengurus jenazah bocah malang ini dengan sukarela.

Esoknya, senin, sekitar jam 08.00,
jenazah Nur Khairunisa akhirnya bisa diistirahatkan untuk selama-lamanya. Semua
biaya ditanggungung oleh warga. Saat jasad adik perempuannya dimasukkan kedalam
lubang kubur barulah Nurizky mengerti apa yang terjadi dengan adik yang sangat
disayanginya itu – adik tempat membagi kasih sayang dan teman membagi
kebahagiaan -, bahwa ia telah pergi untuk selama-lamanya.

Terakhir Supriono mengucapkan terima
kasih kepada warga yang menolongnya. Tanpa bantuan dan solidaritas mereka,
entah sampai kapan dan dimana jenazah putrinya dapat dimakamkan, mengingat
mahalnya dan panjangnya birokrasi untuk menguburkan jenazah. Tak lupa dalam
hati kecilnya ia berkata dengan sepenuh harap, kepada ibundanya Nisa, yang entah
di mana saat ini berada, agar ia bisa berziarah ke makam anaknya – “Tengoklah,
barang sejenak kuburan putrimu ini” -.
Sebagaimana dituturkan
oleh Supriono
.

Keranjang Buah Si Entong

June 14th, 2007 by dwiajioke

14 Jun 07 14:33 WIB

Belum satu pekan saya tinggal di Sawangan, Depok. Namun sudah
mendapatkan banyak pelajaran berharga nan penuh hikmah. Salah satu
pelajaran saya dapatkan dari Si Entong -semua warga perumahan tempat
kami tinggal memanggilnya demikian- penjual buah dan sayuran yang kerap
mampir menawarkan dagangannya.

Usianya baru dua belas tahun, namun perawakannya lumayan tinggi
untuk anak seusianya. Setiap pagi ia memikul dua keranjang yang berisi
buah-buahan seperti pisang, pepaya dan juga singkong. Beberapa jenis
sayuran seperti daun singkong, kangkung dan bayam pun sering dibawanya
serta. Suara cemprengnya mudah dikenali dan sangat khas saat berteriak
memanggil pembeli.

Beberapa hari lalu, Entong mampir ke halaman rumah kami dan
menawarkan dagangannya. "Pepaya pak, bu… Manis nih, matang di pohon.
Pisangnya juga bagus-bagus… " Beruntung ia, kami memang sedang
kehabisan buah di rumah. Maka kami pun membelinya. Cukup kaget saat
tahu harga yang disebutkannya untuk sebuah pepaya seberat kurang lebih
satu kilo, "dua ribu rupiah… " katanya.

Begitu pun dengan sesisir pisang mas yang hanya seharga seribu lima
ratus. Selain kami jarang sekali menawar barang dagangan kepada
pedagang kecil, tentu saja takkan mungkin kami menawarnya lagi
mengingat harga yang sangat murah itu.

Terlebih setelah tahu berapa jarak yang harus ditempuhnya untuk
berjualan dari rumahnya sampai ke komplek perumahan kami, yakni dua
setengah jam berjalan kaki. Bisa dibayangkan, memikul beban berat dan
menempuh jarak yang sangat jauh dengan berjalan kaki. Kaki kecil tak
beralas kaki itu harus menapaki jalan beraspal dan berbatu, belum lagi
tubuh kurusnya yang tak henti dihantam terik matahari.

Tidak ada satu alasan pun bagi saya untuk menawar barang
dagangannya. Belum lagi setelah kami mendengar ceritanya, bahwa ia tak
pernah diizinkan kembali ke rumah sebelum semua dagangannya habis.
"Bisa diomelin sama bapak kalau masih tersisa. Mendingan saya nggak
pulang sampai malam daripada diomelin… " terangnya.

Ketika kami bertanya tentang sekolahnya, ia tertunduk malu dan,
"Sudah dua tahun saya nggak sekolah, dagang aja. Lagian bapak nggak
punya uang untuk biaya sekolah, " tambahnya.

Isteri saya yang sejak tadi terdiam pun ambil suara, "kalau ada yang mau biayain sekolah, Entong mau sekolah lagi?"

"Saya sih mau banget bu, tapi pasti nggak boleh sama bapak. Nanti
siapa yang jualan buah dan sayuran ini… " wajahnya tampak sedih. Dan
tergesa ia menata kembali buah-buah di keranjangnya seraya mengalihkan
pembicaraan, "ini pepayanya jadi nggak…?"

Kami pun membeli beberapa dagangannya, setidaknya meringankan beban
di pundaknya serta menghapus keraguannya untuk kembali ke rumah tanpa
khawatir terkena marah bapaknya. Entong berjalan ceria sambil tangannya
sibuk menghitung laba yang tak seberapa.

Sungguh, sebuah pelajaran baru tentang kegigihan dan perjuangan
hidup digambarkan dengan apik oleh lelaki kecil itu. Sangat
mencabik-cabik perasaan saya akan hakikat perjalanan kehidupan, bahwa
ada sebagian di antara kita yang mempertaruhkan segalanya untuk hidup,
sementara sebagian lainnya tak butuh apapun untuk hidup karena sudah
tersedia dan berlimpah.

Terima kasih, Entong…  (gaw)

My tears…..

June 13th, 2007 by dwiajioke

Sudah sekian lama israel menjajah dan merebut tanah Palestina - tanah yang disucikan  oleh beberapa agama - ….
Sesak dada ini, basah mata ini, panas hati ini, bergejolak jiwa ini - semua bercampur menciptakan rasa yang ……ingin meledak…. - bila membaca, melihat atau mendengar betapa kejamnya bangsa israel memperlakukan bangsa Palestina, bangsa yang berhak atas tanah Palestina - kiblat pertama umat Islam -. terlebih lagi dengan standar ganda yang dipakai oleh SEKUTU israel - amerika - yang mengumandangkan dirinya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi dan pembela HAM, padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa amerika bukanlah bangsa yang menjunjung tinggi dan membela HAM, tetapi kebalikannya; merupakan bangsa yang paling banyak dan paling kejam dalam mempreteli HAM bangsa atau orang lain. amerika akan melakukan cara apapun juga untuk membuat mereka semakin berkuasa - atau setidaknya tetap berkuasa - di bumi ini.

bila ada kata yang mengatakan bahwa amerika itu adalah negara yang baik, maka dari hati yang paling dalam saya mengatakan "OMONG KOSONG". kalau ada kata baik kepada amerika, sudah dapat dipastikan terdapat rumus BAIK = BURUK dengan nilai MUTLAK, sehingga secara otomatis kata baik itu berubah menjadi BURUK titik tidak pakai koma.

Seringkali saya berdoa….Ya Allah berikanlah hidayah dan petunjukmu kepada bangsa  amerika….jadikanlah bangsa amerika berpihak kepada islam, bukalah mata dan hati mereka - bahwa yang selama ini mereka lakukan adalah salah -. mengapa saya mengharapkan amerika! karena disana terdapat potensi yang sangat besar yang dapat membawa kedamaian dan ketentraman bagi umat manusia di dunia - bagi semua umat beragama -.
….ya Allah kuatkanlah, teguhkanlah, kokohkanlah semangat/ghiroh bangsa Palestina dalam menghadapi cobaan yang teramat berat. tuntun para pemimpin Palestina supaya tidak MENJUAL bangsanya kepada israel yahudi. jadikan pemuda-pemuda israel takut dengan pekikan takbir "ALLAHU AKBAR", takut dengan sorotan mata keikhlasan, takut dengan semangat membela agama para pemuda-pemuda Palestina…..

Ku persembahkan air mata dalam doaku untuk mu PALESTINA…….
ALLAHU AKBAR…

ini baru seru…

June 11th, 2007 by dwiajioke

sudah lama tidak menyaksikan balap yang seseru minggu kemarin…..
this is the result: 1st place "Casey Stoner", 2nd place "Valentino Rossi", n 3rd place "Dani Pedrosa"
viva 4 stoner bisa men"cundangi" rossi. tidak ramai kalau yang menang yang itu-itu saja…..
jarang sekali terjadi perseteruan antara 3 pembalap (mungkin lebih tepatnya 2 pembalap saja - stoner dengan rossi, karena terlihat pedrosa hanya mencari aman saja dan puas dengan posisi ke-3)….

yang menarik, ternyata yamaha memang kalah motor (bahkan dengan ducati sekalipun yang masih dibilang pemain baru), yang sangat berperan adalah skill rossi. entah kalau rossi meninggalkan yamaha….jauh harapan dari juara dunia - apalagi juara kontruksi -
terlihat rossi unggul (dan seringkali memperpendek jarak) saat di tikungan, tapi saat trek lurus….wow, its like the others bike turn on the NOS system.

hebatnya rossi, racing line-nya suka (sepertinya memang) berbeda dengan pembalap lain. terlihat dia bisa mengembangkan kecepatan saat di tikungan (walaupun sering terlihat terbawa nafsu dan keluar dari tikungan terlalu jauh).
dan ketahanan fisiknya memang hebat….
jempol buat rossi.

NB: kapan bisa mengendarai motor dalam kecepatan "more than 200 km" ya…. insya 4WI bisa… harus diniatin….amin.

Rindu yang terobati…

June 11th, 2007 by dwiajioke

akhirnya rindu itu sedikit terobati…..

jumat malam….
menghadiri acara prom night siswa angkatan 8…
setelah lama tidak melihat dan bersua, akhirnya bertemu juga….
ada rasa nikmat melihat orang yang kita ajar telah melalui salah satu ujian dalam hidupnya…dan kita ikut berperan didalamnya (walaupun sangat sedikit)….
ada rasa bangga saat disapa mereka…..
mungkin inilah rasa yang dikatakan oleh guru-guru saya dahulu ataupun orang-orang yang saya kenal yang berprofesi sebagai guru, rasa yang tidak dapat dibeli dengan uang…

Wellcome

June 8th, 2007 by dwiajioke

this is my first post in my blog at friendster.com
i still learn how to be a blogger.
n i already bought "CHIP special Blogging"
just wait my blog….n see it….